Terus semangat belajar dan berbagi ilmu sampai ke liang lahat, demi menjadi Hamba ุงู„ู„ّู‡ُ yang Kaffah.

ODOS - Episiode 583 - 597 : ๐Ÿ’Ÿ *Cinta Rasulullah SAW kepada Keluarga (2).............*๐Ÿ’Ÿ

๐Ÿ“šONE DAY ONE SIROH

๐ŸฎMATERI 583๐Ÿฎ

ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َู‰ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَ ุนَู„َู‰ ุขู„ِ ู…ُุญَู…ุฏ

๐Ÿ’Ÿ *Cinta Rasulullah SAW kepada Usamah bin Zaid*๐Ÿ’Ÿ

Khalifah Umar bin Khattab membagikan uang negara kepada kaum muslimin. Ia memberi Usamah bin Zaid dua kali lipat daripada putranya sendiri,  Abdullah bin Umar. Abdullah mengetahui bahwa ayahnya memberikan besarnya uang sesuai dengan jasa setiap orang. Karena itu ia khawatir jasanya untuk Islam masih terlalu kecil sehingga ia bertanya kepada ayahnya, "Kenapa ayahanda lebih mengutamakan Usamah dari Ananda? Padahal Ananda mengikuti Rasulullah dalam peperangan yang tidak diikutinya?"


 Umar menjawab,  "Usamah lebih dicintai Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam daripada kamu, sebagaimana ayahnya lebih dicintai dari ayahmu."

Usamah adalah putra Zaid bin Harits yang amat disayangi Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Setelah ayahnya Zaid bin Haritsah gugur di perang  Mu'tah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengangkat Usamah yang saat itu belum lagi berusia 20 tahun sebagai panglima pasukan yang akan berangkat melawan Romawi.

Padahal pasukan itu diikuti oleh para sahabat besar yang jauh lebih tua dan berpengalaman. Para sahabat mempertanyakan kebijakan Rasulullah ini, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Sebagian orang  mengecam pengangkatan Usamah bin Zaid sebagai panglima. Sebelum ini mereka juga telah mengecam pengangkatan ayahnya walau ayahnya itu layak untuk menjadi panglima."


-------

"Usamah pun layak untuk jabatan itu. Ia adalah yang paling saya kasihi setelah ayahnya. Saya berharap kiranya ia termasuk salah seorang yang utama di antara kalian. Maka bantulah ia dengan memberikan nasehat yang baik."

Usamah berangkat bersama pasukannya sesaat setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam wafat. Heraklius Kaisar Romawi sangat heran karena kematian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak mempengaruhi semangat tempur pasukan Usamah. Dengan kecut dia menarik pasukan Romawi sehingga kaum muslimin berkata, "Tidak pernah kita lihat pasukan yang lebih aman dari pasukan Usamah."

Cara paling manjur untuk menarik kasih sayang sesama muslim adalah dengan memuji sifat baik saudara kita tanpa berlebihan.  Pujilah keluarganya, keahliannya, kecerdasannya, penampilannya, dan lainnya.

Umar berkata, "Ada tiga cara untuk menunjukkan cinta persaudaraan yang tulus:
ucapkan salam ketika berjumpa, bahagiakan saudaramu, dan panggilan dengan nama-nama kesukaannya."

----------------------------------------

๐Ÿ’ŸCinta Rasulullah kepada Abdullah bin Rawahah๐Ÿ’Ÿ

Abdullah bin Rawahah adalah seorang penyair. Ketika sedang duduk bersama para sahabatnya,  tiba-tiba Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bertanya kepada Abdullah bin Rawahah,  "Apa yang anda lakukan apabila hendak mengucapkan syair?"

Abdullah menjawab, "Kurenungkan dulu,  kemudian baru kuucapkan."

Setelah itu, Abdullah bin Rawahah mengucapkan syair tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

"Wahai putra Hasyim yang baik,  sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia.

Allah memberimu keutamaan begitu rupa sampai orang tidak merasa iri.

Aku mempunyai perasaan baik dan keyakinan yang dalam kepadamu.

Walau perasaan dan keyakinanku terhadapmu itu berlawanan dengan kebanyakan orang.

Orang orang seperti itu tidak hendak menolong atau menjawab kesulitan anda.

Karena itu,  Allah mengukuhkan  kebaikan dan ajaran yang anda bawa.

Sebagaimana ia telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa."

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam gembira dan ridha mendengar syair indah itu sehingga beliau bersabda kepada Abdullah bin Rawahah, "Dan engkau pun akan diteguhkan Allah."

------------

Doa Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam, "Dan engkau pun akan diteguhkan oleh Allah...", terjadi pada saat Perang Mu'tah.
Ketika dua Panglima sebelumnya,yaitu  Zaid bin Haritsah dan Ja'far bin Abi Thalib gugur, Abdullah bin Rawahahlah yang menggantikan mereka. Sejenak dia ragu. Namun Allah meneguhkan hatinya dan ia maju terus, dan sampai akhirnya ikut syahid juga.

Pada saat yang bersamaan di Madinah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menceritakan gugurnya ketiga panglima itu dengan mata berkaca-kaca. Beliaupun  bersabda, "Mereka bertiga diangkat ke tempatku di surga."

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat mengutamakan pentingnya akhlak yang baik dalam bersaudara. Beliau bersabda "Engkau tidak akan bisa memikat hati manusia dengan harta kekayaanmu. Tapi yang dapat memikat hati mereka adalah wajah ceria dan akhlak terpuji."

--------------------------------------------
๐Ÿ’ŸCinta Abu Sufyan kepada Rasulullah๐Ÿ’Ÿ

Abu Sufyan Haris bin Abdul Muthalib adalah sepupu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Mungkin kita belum mengetahui bahwa Abu Sufyan juga saudara sesusuan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam karena ia juga disusui Halimah as-Sa'diyah.

Selama 20 tahun dihabiskannya waktu untuk menentang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sekeras-kerasnya. Padahal dalam Perang Badar, ia sempat tertegun  melihat kekuasaan Allah ketika pasukan Quraisy yang dipimpinnya diserang para malaikat yang berwujud pasukan berkuda berjubah putih yang menyerbu di antara langit dan bumi. Ketika memeluk Islam, ia mengucapkan syahadat dan berkata, "Tidak ada dendam dan tidak ada penyesalan, Ya Rasulullah."

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, "Tidak ada dendam dan tidak ada penyesalan lagi, ya Abu Sufyan."

Setelah itu, beliau bersabda kepada Ali bin Abi Thalib, "Ajarkan saudara sepupumu ini cara berwudhu dan sholat sunnah kemudian bawa lagi ke sini."

-------

Setelah Abu Sufyan bin Harist bin Abdul Muthalib kembali, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepadanya, "Hendaknya engkau menggunakan sisa hidupmu dengan penuh berkah."

Abu Sufyan menjalankan pesan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam itu sebaik-baiknya. Mulai detik itu, dihabiskannya seluruh hidupnya untuk beribadah dan  berjihad. Dialah yang tetap berdiri memegang tali kekang kendaraan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika pasukan muslim berlari mundur di perang Hunain. Dialah yang menciumi kaki Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan membasahinya dengan air mata haru ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyebutnya  "Oh saudaraku, Abu Sufyan bin  Harits."

Sepeninggal Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, hati Abu Sufyan  
dipenuhi rindu yang sangat untuk bertemu lagi dengan beliau di kampung akhirat. Orang-orang pun keheranan melihatnya menggali sebuah kuburan di Al Baqi. Ketika ditanya kuburan untuk siapa, Abu Sufyan menjawab, "Aku sedang menyiapkan kuburanku."

๐Ÿ”†Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Jika seseorang berhenti bertengkar ketika dia berada di pihak yang salah, akan dibangunkan baginya sebuah rumah di surga Firdaus. Jika seseorang berhenti bertengkar sekalipun dia berada di pihak yang benar, akan dibangunkan juga baginya sebuah rumah di tempat paling mulia dalam surga."

---------------------------------------

๐Ÿ’ŸCinta Amr bin Jamuh kepada Rasulullah๐Ÿ’Ÿ

Ketika putranya, Muadz,memeluk Islam, Amir bin Jamuh masih menyembah berhala kesayangannya yang bernama Manat. Setelah secara diam-diam putranya berkali-kali membuang Manat ke dalam lubang berlumpur tanpa berhala itu bisa membela dirinya sendiri, terbukalah hati Amr bin Jamuh untuk memeluk Islam.

 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sangat sayang kepadanya karena Amr bin Jamuh sangat dermawan sehingga ketika ia mendengar bani Salamah, suku dari Amir bin Jamuh, dipimpin oleh Al Jaddu  yang kikir, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Apalagi penyakit yang lebih parah dari kikir? Kalau begitu kuangkat sebagai pemimpin bani Salamah, si putih keriting, Amr bin Jamuh."

Kecintaan Rasulullah ini dibalas oleh Amir bin Jamuh dengan semangat jihad yang luar biasa. Di Perang Uhud Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak mewajibkannya ikut karena ia pincang, tetapi Amr bin Jamuh  terus mendesak beliau, "Ya Rasulullah, putra -putraku bermaksud hendak menghalangiku bertempur bersama anda. Demi Allah aku amat berharap kiranya dengan kepincanganku ini aku dapat merebut surga."

---------

Dengan penuh haru dan kagum Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengijinkannya ikut. Maka majulah Amr bin Jamuh bersama 4 orang putranya di medan Perang Uhud. Saat bertempur ia menengok ke sana kemari mengharapkan kedatangan malaikat maut untuk menjemputnya.  Akhirnya cita-citanya terkabul. Amir bin Jamuh gugur sebagai Syuhada.

 Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang sangat menghargai persahabatan dan kasih sayang memberikan perintah, "Perhatikan, makamkan jenazah Abdullah bin Amr bin  Haram dan Amr bin Jamuh di lubang yang sama karena selagi hidup mereka adalah 2 sahabat yang saling setia dan saling menyayangi.

Empat puluh enam tahun kemudian terjadilah banjir di pemakaman mereka. Jabir bin Abdullah bin Amr bin Haram menggali kuburan ayahnya untuk dipindahkan. Ternyata tubuh ayahnya dan Amir bin Jamuh tidak hancur dimakan tanah. Mereka tampak seolah tidur dan tersenyum bangga dengan kesyahidan mereka.

๐Ÿ”†Menurut riwayat dari Abu Umamah al-Bahili, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pergi keluar menuju ke arah kami ketika kami sedang bertengkar. Beliau marah dan berkata, "Hentikanlah perselisihan karena tidak banyak kebaikan di dalamnya. Hentikan perselisihan karena tidak banyak manfaatnya dan hanya menyulut permusuhan diantara sesama saudara."

--------------------------------------

๐Ÿ’ŸCinta Abdullah bin Umar kepada Rasulullah๐Ÿ’Ÿ

Abdullah bin Umar bin Khattab telah memeluk Islam sejak berusia 13 tahun. Di Perang Badar, ia mendaftarkan diri sebagai prajurit untuk mendampingi ayahnya, tetapi ditolak Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam karena usianya masih sangat muda.

Suatu hari Abdullah bermimpi di tangannya ada sehelai beludru yang dapat membawanya ke bagian surga manapun dia mau. Tiba-tiba datang dua orang yang membawanya ke neraka. Namun seorang malaikat menghadang mereka dan berkata, "Jangan ganggu!"

Bunda Hafsah menceritakan mimpi saudara kandungnya itu kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.  Maka beliau bersabda, "Akan menjadi laki-laki paling utamalah Abdullah  itu andai ia sering shalat malam."

Maka sejak itu, sampai dipanggil pulang ke hadirat Allah, Abdullah bin Umar tidak pernah meninggalkan salat malam, baik saat di rumah maupun dalam perjalanan. Seperti ayahnya, Abdullah bin Umar banyak sekali menangis apabila mendengar peringatan dari ayat-ayat Al Quran.

-------

Abdullah bin Umar mencintai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sebegitu rupa sehingga ia menunjukkan cintanya  itu dengan cara yang luar biasa. Ia  meniru dengan cermat apapun yang pernah dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Apabila Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam shalat di suatu tempat, Abdullah bin Umarpun akan sholat di tempat itu. Apabila Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah berdoa sambil berdiri, Abdullah pun berdoa di tempat itu sambil berdiri.

Bahkan ketika ia ingat bahwa unta tunggangan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah  berputar dua kali di suatu tempat di Mekkah sebelum Rasulullah turun untuk melakukan sholat dua rokaat, Abdullah bin Umarpun membawa untanya berputar dua kali kemudian barulah ia bersimpuh dan sholat dua rokaat.

๐Ÿ”†Abdullah bin Umar menuturkan bahwa seorang sahabat rasul pernah diberi kepala kambing. Sahabat itu berkata, "Saudaraku si Fulan lebih membutuhkannya dibanding diriku. Kepala kambing itu dikirimkan,  tetapi orang yang menerima mengirimkannya kepada saudara yang lain.  Begitu seterusnya sampai kepala kambing itu sampai lagi kepada orang pertama setelah berpindah sebanyak 7 Kali.

--------------------------------------
Cinta Rasulullah kepada Muadz bin Jabal๐Ÿ’Ÿ

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Umatku yang paling tahu halal dan haram adalah Mu'adz bin Jabal."

Ketinggian ilmu inilah yang membuat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sayang kepadanya dan mengutus Muadz untuk menjadi Hakim di Yaman. Sebelum berangkat, Rasulullah bertanya, "Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Muadz?"

 "Kitabullah."

"Bagaimana jika kamu tidak jumpai di dalam kitabullah," tanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

"Nanti saya putuskan dengan Sunah Rasul."

"Jika tidak kau jumpai dalam sunnahku," kembali Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bertanya.

"Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad dan saya tidak akan berlaku sia-sia."

Maka berseri-serilah wajah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Kemudian beliau bersabda, "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada utusan Rasulullah."

-------

Suatu pagi Rasulullah Shallallahu Alaihi Salam bertanya, "Bagaimana keadaanmu pagi hari ini, hai Muadz?"

"Pagi hari ini, aku benar-benar telah beriman, Ya Rasulullah."

"Setiap kebenaran ada hakikatnya,  maka apakah hakikat keimananmu?" tanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lagi.

"Setiap berada pada pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu sore. Setiap berada pada waktu sore aku menyangka tidak akan mencapai waktu pagi. Tiada satu langkah pun aku berjalan,  kecuali aku menyangka tidak akan diiringi langkah lainnya. Seolah aku saksikan setiap umat jatuh berlutut ketika melihat buku catatannya. Seolah kusaksikan penduduk surga menikmati kesenangannya dan penduduk neraka menderita."

Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, "Maka pegang teguhlah, jangan lepaskan!"

Salah satu tanda saling mencintai karena Allah adalah mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya. Diriwayatkan bahwa Masruq dalam keadaan sulit karena harus membayar hutang,  dan saudaranya, Khaitsamah juga mempunyai utang. Maka pergilah Masruq dengan maksud hendak membayarkan hutang Khaitsamah, padahal Masruq tidak mengetahui pada saat yang sama Khaitsamah juga pergi untuk membayarkan utang Masruq sedangkan Masruq tidak mengetahuinya.

-------------------------------------------

๐Ÿ’ŸCinta Umair bin Wahab kepada Rasulullah๐Ÿ’Ÿ

Penduduk Mekah menjuluki Umair bin Wahab sebagai *Jagoan Quraisy*.  Setelah Perang Badar Umair membuat kesepakatan rahasia dengan Shafwan bin Umayyah untuk membunuh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Maka Umair mengasah pedang dan memberinya racun. Setelah itu ia pergi ke Madinah.

Tiba di Madinah ia langsung menghadap Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan pedang terhunus yang dipanggul dibahunya. Umar bin Khattab murka dan ingin membunuhnya, tetapi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mencegahnya, lalu beliau berkata, "Wahai Umair mendekatlah!"

Umair mengucapkan salam jahiliyah, "Selamat pagi."

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, "Sesungguhnya Allah telah memuliakan kami dengan suatu ucapan kehormatan yang lebih baik dari ucapanmu, Umair! yaitu ucapan para ahli surga. Apa maksud kedatanganmu Umair?"

"Aku ingin menebus anakku yang tertawan di Badar."

"Lalu mengapa engkau menyandang pedangmu? berterusteranglah Umair. Apa maksud kedatanganmu sebenarnya?" tanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lagi.

"Tidak ada maksud lain kecuali yang tadi kukatakan."

-------

Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Bukankah kamu telah duduk bersama Safwan bin Umayyah dan tamu berkata, "Kalau bukan karena hutang dan keluargaku niscaya aku akan pergi membunuh Muhammad." Kemudian sofwan menjamin membayarkan hutangmu dan menanggung keluargamu asal kamu membunuhku. Ternyata Allah telah menghalangi maksudmu itu!"

Umair terpana. Ia tidak menyangka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengetahui isi  rencana rahasianya. Maka sejak itulah Umair menjadi muslim ta'at yang begitu mencintai Allah dan Rasul-Nya. Sampai-sampai Umar bin Khattab berkata, "Demi Allah, ketika Umair muncul,  aku lebih suka melihat seekor babi. Namun sekarang aku lebih suka kepadanya daripada sebagian anakku."

 ๐Ÿ”†Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Berhati-hatilah terhadap kecurigaan, sebab kecurigaan itu adalah berita yang paling tidak benar dan kecurigaan itu mengarah pada tindakan mengintai dan memata-matai." Selanjutnya beliau bersabda, "Jangan memata-matai dan jangan mengintai. Jangan putuskan silaturahmi dan jangan bertengkar, tetapi beribadahlah kepada Allah sebagai saudara."
----------------------------------------

๐Ÿ’ŸCinta Tsabit bin Qais kepada Rasulullah๐Ÿ’Ÿ

Sewaktu turun ayat "Sesungguhnya, Allah tidak suka kepada setiap orang yang congkak dan sombong." ,(Quran surat Luqman Ayat 18), Tsabit bin Qais menutup pintu rumahnya dan duduk menangis begitu lama. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mendengar hal itu. Kemudian, beliau memanggil  Tsabit dan menanyainya. Tsabit menjawab, "Ya Rasulullah, aku senang kepada pakaian yang indah dan alas kaki yang bagus. Sungguh aku takut dengan ini akan menjadi orang congkak dan sombong."

 Rasulullah Shallallahu Alaihi Salam tersenyum, "Engkau tidak termasuk ke dalam golongan mereka itu, bahkan engkau hidup dalam kebaikan dan mati dengan kebaikan. Engkau akan masuk surga."

Namun ketika turun ayat, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian angkat suara melebihi suara Nabi ....,dan jangan kalian berkata kepada nabi dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara kalian terhadap sebagian yang lainnya. Karena dengan demikian amalan kalian akan gugur dan kalian tidak menyadarinya." (Qur'an surat Al-Hujurat ayat 2)

Tsabit kembali menutup pintu rumahnya dan kembali menangis. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mencari dan kembali menanyainya. Jawab Tsabit, "Sesungguhnya, aku ini seorang manusia yang keras suara dan sesungguhnya aku pernah meninggikan suaraku dari suaramu, wahai Rasulullah. Tentulah amalanku gugur dan aku akan masuk neraka."

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Engkau tidaklah termasuk salah seorang dari mereka bahkan engkau hidup terpuji dan nanti akan berperang sampai  syahid sehingga Allah akan memasukkanmu ke dalam surga."

Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam wafat,  kaum Muslimin memerangi nabi palsu. Ketika semangat pasukan melemah, Tsabit dan Salim memakai kain kafan dan mengubur kaki mereka ke tanah, lalu bertahan sampai syahid. Melihat hal itu pasukan muslimin bangkit dan menang!๐Ÿ’ŸCinta Tsabit bin Qais kepada Rasulullah๐Ÿ’Ÿ

Sewaktu turun ayat "Sesungguhnya, Allah tidak suka kepada setiap orang yang congkak dan sombong." ,(Quran surat Luqman Ayat 18), Tsabit bin Qais menutup pintu rumahnya dan duduk menangis begitu lama. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mendengar hal itu. Kemudian, beliau memanggil  Tsabit dan menanyainya. Tsabit menjawab, "Ya Rasulullah, aku senang kepada pakaian yang indah dan alas kaki yang bagus. Sungguh aku takut dengan ini akan menjadi orang congkak dan sombong."

 Rasulullah Shallallahu Alaihi Salam tersenyum, "Engkau tidak termasuk ke dalam golongan mereka itu, bahkan engkau hidup dalam kebaikan dan mati dengan kebaikan. Engkau akan masuk surga."

Namun ketika turun ayat, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian angkat suara melebihi suara Nabi ....,dan jangan kalian berkata kepada nabi dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara kalian terhadap sebagian yang lainnya. Karena dengan demikian amalan kalian akan gugur dan kalian tidak menyadarinya." (Qur'an surat Al-Hujurat ayat 2)

Tsabit kembali menutup pintu rumahnya dan kembali menangis. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mencari dan kembali menanyainya. Jawab Tsabit, "Sesungguhnya, aku ini seorang manusia yang keras suara dan sesungguhnya aku pernah meninggikan suaraku dari suaramu, wahai Rasulullah. Tentulah amalanku gugur dan aku akan masuk neraka."

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Engkau tidaklah termasuk salah seorang dari mereka bahkan engkau hidup terpuji dan nanti akan berperang sampai  syahid sehingga Allah akan memasukkanmu ke dalam surga."

Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam wafat,  kaum Muslimin memerangi nabi palsu. Ketika semangat pasukan melemah, Tsabit dan Salim memakai kain kafan dan mengubur kaki mereka ke tanah, lalu bertahan sampai syahid. Melihat hal itu pasukan muslimin bangkit dan menang!

๐Ÿ”† Rasulullah dan Hudzaifah.

Suatu ketika Rasulullah  Sallallahu Alaihi Wasallam pergi ke sumur untuk bersuci. Hudzaifah menabiri Rasulullah dengan kain. Kemudian berganti Rasulullah menabiri Hudzaifah.  "Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu! Ya Rasulullah jangan lakukan itu!" Namun Rasulullah menjawab, "Setiap kali dua orang bersama-sama, yang lebih disukai Allah adalah dia yang berlaku baik kepada sahabatnya."



๐Ÿ“Editor : Ustadzah Ratna

๐Ÿ“MATERI 597๐Ÿ“

๐Ÿ“☘️๐Ÿ“☘️๐Ÿ“☘️๐Ÿ“☘️๐Ÿ“